GEREJA
KOINONIA
Konservasi
secara umum diartikan pelestarian namun demikian dalam khasanah para pakar
konservasi ternyata memiliki serangkaian pengertian yang berbeda-beda
implikasinya. Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan
dalam sebagai berikut :
1. Konservasi adalah
menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang
besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).
2. Konservasi adalah
alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial
(Randall, 1982).
3. Konservasi merupakan
manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia
sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam
kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi,
pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).
4. Konservasi adalah
manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau
memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi
yang akan datang (WCS, 1980).
Salah satu bangunan
konservasi arsitektur di jawa barat yaitu :
Nama Bangunan Baru
: Gereja
Koinonia
Nama Bangunan Lama
: Gereja Bethel / De
Betelkerk
Alamat
: Jl. Matraman Raya 126 Kel. Balimester Kecamatan
Jatinegara Jakarta Timur (Jakarta 13310)
Pemilik
: Yayasan Gereja Koinonia
Arsitektur
: Historik Belanda Modern
Keterangan Ringkas :
Dibangun pada tahun 1911-1916. Koinonia berarti
“Persekutuan” (bahasa Ibrani). Kompleks gereja yang berada di ujung Jalan
Matraman ini merupakan gereja pertama di Kawasan Timur Batavia, saat Meester
Cornelis membuka kawasan ini (1881-1918). Gereja ini didirikan setelah seorang
mantan Ketua Mahkamah Tinggi Pemerintah Kolonial Belanda marah besar dan merasa
tidak setuju dengan khotbah seorang pendeta ultra liberal pada perayaan Paskah
awal 1900-an di Gereja Emmanuel yang saat itu masih bernama Willems Kerk. Atap
gereja Bethel ini sudah tidak asli lagi, arsitekturnya bergaya vernacular,
penerapan gable Belanda dan penerapan salib Yunani pada pediment tympanium.
Denah gereja dipengaruhi aturan geometrik. Bentuk segi empatnya dibagi tepat
menjadi sembilan bagian, dimana empat sudut terluar berfungsi sebagai ruang
tangga, sehingga bagian dalam gereja berbentuk salib simetri. Ruang-ruang
tangga dari luar terlihat seperti menara.
Sumber :
No comments:
Post a Comment